Film
The Raid : Redemption dan The Raid 2 : Berandal yang dibintangi Iko
Uwais menembus pasar dunia. Tak hanya film Indonesia yang menjadi
terangkat di mata dunia, namun seni bela diri silat juga ikut menjadi
perhatian dunia.
The
Raid The Raid merupakan film Indonesia pertama yang masuk box office
Amerika Serikat (AS) dan pernah bertengger pada urutan 11 sebagai film
yang paling banyak ditonton di bioskop AS. Film yang menonjolkan
beladiri asli Indonesia yakni Pencak Silat ini diputar di 875 bioskop di
AS.
Selain
di AS, film ini juga diputar dibeberapa negara lainnya. The Raid telah
menyabet 3 penghargaan bergengsi dunia, antara lain Cadillacs People’s
Choice Award, Toronto International Film Festival 2011 dan The Best Film
sekaligus Audience Award- Jameson Dublin International Film Festival.
Tak
kalah dengan yang pertama, The Raid 2 : Berandal juga sukses memikat
penonton film Amerika. Memasuki musim ketiganya di box office Amerika
Serikat, sekuel kedua The Raid berhasil mencetak hasil yang mengagumkan
dengan menduduki peringkat 11.
Menanggapi
tentang dirinya dan pencak silat yang kini terkenal di dunia, Iko
dengan nada merendah mengatakan jika itu semua berkat Garet Evans,
sutradara The Raid.
"Pencak
silat nggak akan dikenal dunia tanpa dia. Kita semua khususnya gue,
angkat topi sama Gareth. Dia nggak tahu Indonesia tapi mau mempelajari
silat yang ada di Indonesia. Dia kupas semua tentang silat. Makanya dia
buat film dia tahu pergerakan setiap shot dia perlihatkan segala angle
dari seni tersebut. Dia lihat kekayaan dari silat," ungkap Iko.
Bagi
Iko, Gareth merupakan sosok yang luar biasa dan menginspirasi. Dia juga
banyak mengucapkan terimakasih kepada Gareth yang akhirnya
membangkitkan lagi semangat Indonesia untuk mempelajari silat.
"Ini
orang lain, kita nggak ada ikatan darah. Gue nggak kenal sama Gareth
sama sekali awalnya, dia mau belajar silat dan mengangkat tentang silat.
Gue hanya perantara. Kalo nggak ada The Raid silat pasti masih
dipandang sebelah mata. Orang Indonesia mungkin tahu silat, tapi mana
ada dunia tahu silat tanpa ada dia?” tanya Iko.
Iko
menyampaikan bahwa sudah seharusnya masyarakat Indonesia lebih
mencintai budaya sendiri. Seperti halnya Gareth, pria bule yang sangat
mencintai Indonesia dengan segala budaya dan keindahannya.
Menembus Hollywood
Kepandaiannya Iko mengolah jurus bela diri pencak silat membawanya ke industri perfilman terbesar dunia, Hollywood.
Kesuksesan
film The Raid membuat kepincut Hollywood untuk membuat ulang film ini.
Alhasil, Iko pun diminta datang ke Hollywood untuk ikut berperan serta.
Iko
memang menjadi lawan main sekaligus menjadi pelatih silat atau fighting
choreographer film besutan Hollywood. The Raid, film laga terbaru Iko,
dibeli Sony Pictures, untuk di-remake dan diedarkan ke seluruh dunia.
Selain
menjadi fighting choreographer, Iko juga dipercaya untuk bermain dalam
film laga garapan sutradara Keanu Reeves berjudul Man Of Tai Chi.
Menjadi
fighting choreographer untuk film besutan Hollywood menjadi berkah
tersendiri. Padahal tak sedikit nama-nama fighting choreographer tenar
yang sudah mendunia di sana, tapi produser film Sony Pictures lebih
memilih Iko.
"Saya
nggak tahu kenapa mereka memilih saya sebagai koreografer? Saya pernah
tanya, kenapa nggak pilih Samo Hung yang sudah terkenal?” ujar Iko.
Sehari-hari
Iko memang bekerja di rumah produksi yang membuat film-filmnya sebagai
tim kreatif yang membuat koreografi silat untuk film-filmnya. Karena itu
ia menolak menggunakan stunt-man untuk adegan perkelahian dalam
filmnya.
"Sayang,
saya sudah buat koreografinya, tapi dimainkan orang lain. Lagi pula
gerakan itu sudah menyatu dengan diri saya," katanya.
Akibat
tak mau menggunakan stuntman, Iko harus menanggung resikonya, seperti
badan lecet dan lebam-lebah. Bahkan ia pernah mengalami kecelakaan
serius ketika latihan koreografi sebelum syuting; engsel lututnya lepas,
ligamennya putus.
"Lutut memang sangat rentan, walaupun sudah sembuh, gampang kena lagi," terang Iko sambil memperlihatkan lututnya.
"Tangan
saya sampai lebam-lebam karena harus menangkis golok (property). Tapi
karena adegan itu harus diulang sebanyak 15 kali di tempat yang sama,
akibatnya pergelangan tangan saya bengkak,” kata Iko lagi.
Tapi
itu adalah bagian dari resiko yang dipilih hanya sendiri. Karena bagi
pria Betawi ini totalitas dalam menjalani profesi adalah hal yang
penting.
Ahli Bela Diri yang Takut Kerupuk
Keahliannya
dalam mengolah jurus silat, sudah tak diragukan lagi. Lawan tanding
dengan siapapun ia tak akan mundur. Namun begitu, Iko juga punya
kelemahan.
Iko
pasti akan menyerah sebelum bertanding jika lawannya menggunakan
kerupuk sebagai senjata untuk melawan Iko. Ya, iko mengaku takut dengan
kerupuk. Ketakutan dengan kerupuk sudah muncul sejak Iko kecil.
Menurutnya,
ia sangat alergi dengan remah-remah kerupuk, bahkan harus menyiram air
berulang kali untuk menghilangkan rasa gatalnya.
"Kalau kena kulit rasanya gremet-gremet, geli dan gatal," ujar Iko.
Meski agak aneh untuk seorang Iko yang pandai berkelahi, namun Iko tak malu untuk mengatakan jika dirinya takut dengan kerupuk.
"Saya takut kerupuk sejak SMP. Enggak tahu kenapa," katanya.
Pengalaman
Iko ini dalam dunia kesehatan dan psikologi disebut fobia makanan atau
food phobia. Psikolog dari Ego State Therapy (EST) Indonesia, Dewi Dewo,
menjelaskan fobia makanan adalah takut pada makanan tertentu.
Penyebabnya, "Pengalaman trauma
Tidak ada komentar:
Posting Komentar